ABSTRAK
Allah Subḥānahu wa ta’āla menciptakan manusia dalam sebaik-baik
penciptaan. Baik bentuk fisik maupun non fisik, manusia tetap lebih unggul jika
dibandingkan dengan makhluk apa pun. Sebagai konsekwensi dari kesempurnaan
penciptaan ini, manusia diberi amanah khusus oleh Allah Subḥānahu wa ta’āla,
yaitu sebagai khalīfah dan’abdun.
Agar amanah khalīfah dan ‘abdun ini bisa berjalan sesuai dengan yang
semestinya, tidak lari dari rel yang telah digariskan oleh hukum Allah Subḥānahu
wa ta’āla, manusia pun diberi bekal istimewa. Bekal istimewa ini bisa disebut
dengan keunggulan manusia, lazimnya diistilahkan dengan fiṭrah.
Ironisnya, dalam kehidupan sehari-hari, jamak kita jumpai kasus yang
berbanding terbalik dengan keistimewaan yang dimiliki oleh manusia itu sendiri.
Keistimewaan yang dimiliki oleh manusia tidak digunakan menurut yang
semestinya. Sehingga kerap terjadi pertikaian, permusuhan, dan hal-hal negatif
lainnya oleh mereka yang notabenenya cerdas dan berakal.
Tentu saja, keistimewaan manusia ini akan lebih bermakna dan bernilai
guna jika dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif. Salah satu hal positif yang
dimaksud ialah dimanfaatkan dalam merealisasikan dan mensukseskan program
kurikulum merdeka, khususnya dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
dan Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin (P5P2RA).
Penulis sangat tertarik untuk meneliti lebih dalam guna memberikan
pemahaman tentang konsep manusia dalam tafsir Al-Mishbah karya Muhammad
Quraish Shihab dan relevansinya dengan P5P2RA. Metode penelitian yang penulis
gunakan ialah metode kualitatif, yaitu penelitian yang lebih bersifat deskriptif, data
yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada
angka, dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), tepatnya dalam
kelompok studi teks kewahyuan.
Penulis menemukan konsep manusia dalam tafsir Al-Mishbah surah Al-
Baqarah ayat 30–39, yaitu; manusia merupakan 1) makhluk yang memiliki
kemampuan untuk berpikir, 2) makhluk yang kreatif, 3) makhluk yang mandiri, 4)
makhluk yang gemar bergotong royong, dan 5) makhluk yang beriman. Hal ini
sangat erat hubungannya dengan P5P2RA yang mempunyai enam dimensi, yaitu;
beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia,
berkebhinnekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
Dari temuan penulis di atas dapat disimpulkan bahwa konsep manusia
dalam tafsir Al-Mishbah surah Al-Baqarah ayat 30–39 sangat relevan dengan
P5P2RA. Hal ini terbukti dari enam dimensi P5P2RA terdapat lima dimensi pada
konsep manusia di atas, yaitu; 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
dan berahlak mulia, 2) bergotong royong, 3) mandiri, 4) bernalar kritis, dan 5)
kreatif.